Sabtu, 30 November 2013

Tri Pusat Pendidikan



I.                   PENDAHULUAN
Pertumbuhan dan perkembangan kehidupan manusia sejalan dengan perubahan yang terjadi dalam masyarakat. Tuntutan akan lingkungan yang berbeda, penyebab individu bertingkah lebih efektif dan efisien, mencari dan menemukan lingkungan baru yang lebih baik. Perkembangan ekonomi, sosial dan budaya antara sekelompok manusia di dalam daerah,di kota ataupun di desa bervariasi menuntut latar belakang penduduknya.untuk dapat meningkatkan kemajuan dan perbaikan dalam suatu masyarakat, di perlukan teknologi.
Untuk dapat memahami dan menggunakan teknologi, di butuhkan pendidikan, baik formal, nonformal dan informal. Pendidikan dalam lingkungan keluarga di benahi, pendidikan formal di tingkatkan, dan pendidikan non formal di kembangkan. Tiga jalur pendidikan tersebut akan mampu mengembangkan segala potensi yang ada dalam masyarakat sesuai dengan keberadaan masing-masing. Melalui pendidikan kita meningkatkan pengetahuan, keterampilan nilai dan sikap tiap-tiap individu. Manusia terdidik adalah pemegang nilai-nilai dan norma-norma kehidupan.[1]

II.                RUMUSAN MASALAH
A.    Pengertian dan Fungsi Lingkungan Pendidikan
B.     Definisi Tri Pusat Pendidikan
C.     Pendidikan Informal, Formal, dan Non Formal
D.    Peran Keluarga, Masyarakat, dan Sekolah
E.     Hubungan Timbal Balik antara Keluarga, Masyarakat, dan Sekolah
III.             PEMBAHASAN
A.    Pengertian dan Fungsi Lingkungan Pendidikan
Lingkungan pendidikan yaitu segala kondisi dan pengaruh dari luar terhadap kegiatan pendidikan.[2]Manusia memiliki sejumlah kemampuan yang dapat di kembangkan melalui pengalaman. Pengalaman itu terjadi karena interaksi manusia dengan lingkunganya, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial manusia secara efisien dan efektif itulah yang di sebut pendidikan. Dan latar tempat berlangsungnya pendidikan itu di sebut lingkungan pendidikan, khususnya pada tiga lingkungan utama pendidikan yakni keluarga, sekolah, dan masyarakat. Meskipun lingkungan tidak bertanggung jawab atas kedewasaan anak didk, namun merupakan faktor yang sangat menentukan yaitu pengaruhnya sangat besar bagi peserta didik, sebab bagaimanapun anak tinggal dalam suatu lingkungan pasti akan mempengaruhi anak tersebut.
     Secara umum fungsi lingkungan pendidikan adalah membantu peserta didik dalam berinteraksi dengan berbagai lingkungan sekitarnya ( fisik, sosial, budaya ), utamanya berbagai sumber daya pendidikan yang tersedia,agar dapat dicapai tujuan pendidikan yang optimal. Penataan lingkungan pendidikan itu terutama di maksudkan agar proses pendidikan dapat berkembang efisien dan efektif. Seperti di ketahui, proses pertumbuhan dan perkembangan manusia sebagai akibat interaksi dengan lingkungan akan berlangsung secara alamiah dengan konsekuensi bahwa tumbuh kembang itu mungkin berlangsung lambat dan menyimpang dari tujuan pendidikan.Pelaksanaan pendidikan dilakukan melalui tiga kegiatan : membimbing, terutama berkaitan dengan pemantapan jati diri dan pribadi dari segi-segi periaku umum ( aspek kebudayaan ), mengajar, terutama berkaitan dengan penguasaan ilmu pengetahuan, melatih, terutama berkaitan dengan keterampilan dan kemahiran ( aspek teknologi ).[3]

B.     Definisi Tri Pusat Pendidikan
Istilah tripusat pendidikan berasal dari istilah yang dipakai oleh Ki Hajar Dewantoro, dalam memberdayakan semua unsur masyarakat untuk membangun pendidikan. Adapun yang dimaksud Tripusat pendidikan adalah setiap pribadi manusia akan selalu berada dan mengalami perkembangan dalam tiga lembaga pendidikan, yaitu : keluarga, sekolah, dan masyarakat. Ketiga lembaga ini secara bertahap dan mengemban tanggung jawab pendidikan bagi generasi muda. Kemudian tripusat pendidikan ini dijadikan prinsip pendidikan, bahwa pendidikan berlangsung seumur hidup dan di laksanakan di dalam lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat. Orientasi kelembagaan tripusat pendidikan ini bersifat alamiah sesuai dengan kenyataan dalam tata kebudayaan manusia.[4]
Tata kehidupan manusia secara mendasar dan memyeluruh di jadikan dasar untuk dapat memahami tata kehidupam pendidikan. Secara sederhana, kita memerlukan realitas kehidupan bahwa manusia dilahirkan dalam lingkungan keluarga. Keluarga sebagai kelompok kecil masyarakat sagat di pegaruhi oleh tingkah laku masyarakat, hubungan timbal balik antara keluarga dan masyarakat sebagai sarana terjadinya proses pendidikan.
Dari awalnya, dalam tata pendidikan masyarakat tradisional  hanya ada dua lembaga pendidikan, yaitu lembaga pendidikan keluarga dan lembaga pendidikan masyarakat. Kedua lembaga pendidikan tersebut di adakan sesuai dengan kebutuhan masyarakat pada saat tertentu. Keberadaan keluarga sebagai lingkungan yang pertama dan utama bagi perkembangan anak, di anggap sebagai kehidupan yang azasi dan alamiah yang pasti dialami oleh kehidupan seorang manusia. Setiap keluarga pasti melaksanakan interaksi dengan keluarga yang lain, sehingga terbentuk sebuahh masyarakat, yakni lingkungan sosial yang ada di sekitar keluarga itu, seperti kampung, desa, kampung, marga tau pulau. Lembaga pendidikan keluarga dan lembaga pendidikan masyarakat berlangsung alamiah dari waktu ke waktu selalu mengalami perkembangan dan perubahan seiring dengan kemajuan kebudayaan masyarakat.[5]
C.    Pendidikan Informal, Formal, dan Non Formal
Pendidikan Informal
Pendidikan informal ialah yang diperoleh sesorang dari pengalaman sehari-hari dengan sadar atau tidak sadar, sejak seseorang lahir sampai mati, didalam keluarga dalam pekerjaan atau pergaulan sehari-hari. Sebagaimana telah diutarakan bahwa keluarga merupakan lingkungan yang pertama kali ditemui oleh anak dalam kehidupannya dan juga merupakan lingkungan utama. Pendidikan informal dimaksudkan timbulnya pengaruh-pengaruh dari orang dewasa kepada anak sebagai akibat komunikasi yang erat dalam pergaulan sehari-hari.[6]
Dasar-dasar tanggung jawab keluarga terhadap anak diuraikan oleh Noor Syam, antara lain:
1.      Dorongan/ motivasi cinta kasih sayang yang menumbuhkan sikap rela mengabdikan hidupnya untuk sang anak.
2.      Dorongan/ motivasi kewajiban moral sebagai konsekuensi kedudukan orang tua terhadap keturunannya, meliputi nilai religius yang dijiwai Ketuhanan Yang maha Esa, serta menjaga martabat dan kehormatan keluarga.
3.      Tanggung jawab sosial berdasarkan kesadaran bahwa keluarga sebagai anggota masyarakat, bangsa, negara, bukan kemanusiaan.[7]
Pelaksanaan pendidikan informal dalam keluarga harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
a.       Kemampuan dasar yang dibawa anak sejak lahir.
b.      Hubungan kodrati orang tua dan anak yang sangat erat.
c.       Keadaan anak secara fisis maupun psikis.
d.      Ketidakberdayaan anak dan ketergantungan anak.[8]
Pendidikan Formal
Menurut Philip H. Coombs pendidikan formal adalah pendidikan yang berstruktur, mempunyai jenjang/tingkat, dalam periode waktu  tertentu, berlangsung dari sekolah dasar sampai universitas dan tercakup di samping studi akademis umum, juga berbagai program khusus dan lembaga untuk latihan teknis dan profesional. Melalui pendidikan formal, anak didik dapat dikembangkan pengetahuan, keterampilan dan sikap, serta nilai-nilai.[9]
Pendidikan formal di sekolah merupakan lanjutan atau pengembangan pendidikan yang telah diberikan oleh orang tua terhadpa anak-anaknya dalam keluarga, dimana hal tersebut dikarenakan beberapa faktor antara lain[10]:
1.      Keterbatasan pengetahuan orang tua
2.      Kesempatan waktu
3.      Perkembangan anak
4.      Lingkungan
Kehidupan di sekolah merupakan jembatan bagi anak, yang menghubungkan kehidupan dalam keluarga dengan kehidupan dalam masyarakat kelak.
Pendidikan Non Formal
Pendidikan non formal ialah pendidikan yang teratur dengan sadar dilakukan tetapi tidak terlalu mengikuti peraturan-peraturan yang tetap dan kuat. Pendidikan non formal merupakan pendidikan di luar sekolah yang secara potensial dapat membantu, dan menggantikan pendidikan formal dalam aspek-aspek tertentu seperti pendidikan dasar atau ketrampilan kejuruan khusus.
Keuntungan dari pendidikan non formal adalah sebagai berikut:
1.      Biaya yang digunakan untuk suatu program cukup rendah.
2.      Waktu yang dipakai tidak lama dan dapat diselesaikan dengan situasi dan kondisi partisipan.
3.      Program yang dilaksanakan dapat membantu dan memenuhi kebutuhan langsung dari partisipan. [11]
D.    Peran Keluarga, Masyarakat, dan Sekolah
Kemajuan masyarakat dan perkembangan iptek yang semakin cepat serta makin menguatnya era globalisasi akan mempengaruhi peran dan fungsi ketiga lingkungan pendidikan. Fungsi dan peranan tripusat pendidikan yaitu :
1.      Lingkungan keluarga
         Keluarga merupakan lembaga pendidikan tertua yang bersifat  informal, yang pertama dan utama yang di alami oleh anak serta lembaga pendidikan yang bersifat kodratif orang tua bertanggung jawab memelihara, merawat, melindungi dan mendidik anak agar tumbuh dan berkembang dengan baik. Secara  sederhana keluarga di artikan sebagai kesatuan hidup bersama yang pertama di kenal anak, dan karena itu di sebut primary community.

Pendidikan keluarga ini berfungsi :
a.       Sebagai pengalaman pertama masa kanak-kanak
b.      Menjamin kehidupan emosional anak
c.       Menanamkan dasar pendidikan moral
d.      Menanamkan dasar pendidikan sosial
e.       Meletakkan dasar-dasar pendidikan agama bagi anak-anak.[12]         
         Menurut Ki Hajar Dewantoro, suasana kehidupan keluarga merupakan tempat yang sebaik-baiknya untuk melakukan pendidikan individual maupun pendidikan sosial. Keluarga itu tempat pendidikan yang sempurna sifat dan wujudnya untuk melangsungkan ke arah pembentukan pribadi yang utuh, peranan orang tua sangat berpengaruh dalam lingungan keluarga sebagai penuntun, pengajar dan pemberi contoh bagi anak-anak mereka. Lingkungan keluarga sungguh-sungguh merupakan pusat pendidikan yang peting dan menentukan sikap watak dan budi pekerti.[13]
         Keluarga merupakan institusi sosial yang bersifat universal multifungsional, yaitu fungsi pengawasan, sosial, pendidikan, keagamaan, perlindungan, dan rekreasi. Menurut Oqburn, fungsi keluarga adalah kasih sayang, ekonomi, pendidikan, perlindungan, rekreasi, status keluarga, dan agama. Sedangkan fungsi keluarga menurut Bierstatt adalah menggantikan keluarga, mengatur dan mengurusi impuls-impuls seksual, bersifat membantu menggerakkan nilai-nilai kebudayaan, dan menunjukkan status. Keluarga dan masyarakat tidak lepas dari pengaruh-pengaruh tesebut, sehingga perubahan apa yang terjadi di masyarakat berpengaruh pula di keluarga. [14]
         Peranan keluarga terutama dalam penanaman sikap dan nilai hidup, pengembangan bakat dan minat serta pembinaan bakat dan kepribadian. Sehubungan dengan itu penanaman nilai-nillai pancasila, nila-nilai keagamaan dimulai dari keluarga.[15]
         Reymond. W. Murray mengemukakan fungsi keluarga sebagai kesatuan turunan dan juga kebahagiaan bermasyarakat berkewajiban untuk melaksanakan dasar pendidikan, rasa keagamaan, kemauan, rasa kesukaan kepada keindahan, kecakapan berekonomi, dan pengetahuan penjagaan diri pada anak.
         Peranan seorang ibu dalam keluarga dalam membimbing anaknya adalah sangat berpengaruh dalam kepribadian seorang anak. Bahkan sejak seorang ibu mengandung, telah terjadi hubungan antara anak dengan ibunya. Proses pertumbuhan anak dalam kandungan sedari dini, telah di tentukan oleh  pelayanan dari ibu yang sedang mengandung. Beberapa penelitian  menunjukkan bahwa kemampuan ( intelegensi ) anak masih dapat di pengaruhi oleh bermutu atau tidaknya makanan ibu pada waktu mengandung, bahkan sampai usia tiga tahun. Dengan demikian jelaslah bahwa lingkungan keluarga adalah merupakan lingkungan yang pertama dalam membentuk pribadi anak didik, dalam lingkungan ini anak mulai di bina dan dan di latih fisik, mental, sosial dan bahasa serta ketrampilanya. Semua pendidikan yang di terima oleh anak dari keluarganya merupakan pendidikan informal, tidak terbatas dan melalui tauladan dalam pergaulan keluarga. [16]

2.    Lingkungan Sekolah
         Tidak semua tugas mendidik dapat di laksanakan oleh orang tua dalam keluarga, terutama dalam hal ilmu pengetahuan dan berbagai macam ketrampilan. Oleh karena itu di kirimkan anak ke sekolah. Sekolah bertanggung jawab atas pendidikan anak-anak selama mereka di serahkan kepadanya. Karena itu sebagai sumbangan sekolah sebagai lembaga pendidikan adalah :
1)   Sekolah membantu orang tua mengerjakan kebiasaan-kebiasaan yang baik serta menanamkan budi pekerti yang baik.
2)   Sekolah memberikan pendidikan untuk kehidupan di dalam masyarakat yang sukar atau tidak dapat di berikan di rumah.
3)   Sekolah melatih anak-anak memperoleh kecakapan-kecakapan seperti membaca, menulis,berhitung, mengambarkan kecerdasan dan pengetahuan.
4)   Di sekolah di berikan pelajaran etika, keagamaan, estetika, membedakan benar atau salah, dan sebagainya.[17]
              Sekolah sebagai lingkungan pendidikan bukan mengambil peranan dan fungsi orang tua dalam mendidik anaknya dalam lingkungan keluarga tetapi sekolah bersama-sama dengan orang tua membantu mendidik anak-anaknya. Di rumah ia mendapatkan pendidikan sesuai dengan batas kemampuan lingkungan keluarga. Hal itu di sebabkan karena kemampuan yang terbatas dan banyaknya tugas dan tanggung jawab lain yang harus di laksanakan. Apabila kita hubungkan dengan pendidikan dalam lingkungan keluarga, maka jelaslah bahwa  pendidikan di sekolah itu bukanlah mengambil tanggung jawab orang tua, tetapi melengkapi dan menyempurnakan pendidikan anak-anak dengan pembangunan bangsa dan negara. Di dalam keluarga mereka di bina di sekolah mereka di kembangkan dan di tingkatkan agar lebih mampu melanjutkan kehidupan bangsa.[18]
              Dalam lingkungan pendidikan sekolah ini anak di persiapkan unuk memecahkan berbagai masalah hidup, seperti mengurus kesehatanya, mencari pekerjaan, bergaul dengan orang lain yang bukan anggota keluarga, mengurus barang-barang yang menjadi miliknya mempertahankan diri dari ancaman berbagai ancaman, dan mengenal dirinya sendiri.
c.       Lingkungan Masyarakat
         Lingkungan masyarakat merupakan lingkunngan ketiga dalam proses pembentukan kerpribadian anak-anak sesuai dengan kepribadiannya. Pada lingkungan keluarga telah di kemukakan perananya dalam membentuk anak-anak, demikian juga lingkungan sekolah. Lingkungan masyarakat akan memberikan peranan yang sangat berarti dalam diri anak, apabila di wujudkan dalam proses dan pola yang tepat. Tidak semua ilmu pengetahuan, sikap, dan ketrampilan dapat di kembangkan oleh sekolah ataupun dalam keluarga, karena keterbatasan dana dan kelengkapan lembaga tersebut.
         Bentuk dan jenis lingkungan sangat menentukan dan memberi pengaruh terhadap pembentukan pribadi tiap individu dalam masyarakat, dengan mengingat ketiga fungsi tersebut. Bagi daerah yang masih terisolir,atau karena komunikasi belum lancar dan pendidikan melalui sekolah formal belum sampai secara merata pada daerah itu, pembentukan tiap individu melaui lingkungan pendidikan dimasyarakat lebih berperan secara aktif di bandingkan dengan daerah lain. Bagi daerah seperti itu lingkungan pendidikan yang menyediakan ilmu pengetahuan, ketrampilan, atau performans yang berfungsi dapat menggantikan pendidikan dasar adalah yang di utamakan.[19]
         Masyarakat adalah salah satu lingkungan pendidikan yang berpengaruh besar terhadap perkembangan pribadi seseorang. Pandangan hidup, cita-cita bangsa, dan perkembangan ilmu pengetahuan akn mewarnai keadaan masyarakat tersebut. Dengan pendidikan di lingkungan masyarakat ini mereka diajarkan konsep-konsep dan sikap tingkah laku dalam pergaulan hidup bersama dalam masyarakat. [20]
d.      Hubungan Timbal Balik antara Keluarga, Masyarakat, dan Sekolah
         Perkembangan peserta didik, seperti juga tumbuh-kembang anak pada umumnya, di pengaruhi oleh berbagai faktor yakni hereditas, lingkungan proses perkembangan. Khusus untuk faktor lingkungan peranan tripusat pendidikan itulah yang paling menentukan, baik secara sendiri-sendiri ataupun secara bersama-sama. Di kaitkan dengan ketiga proses kegiatan utama pendidikan ( membimbing, mengajar, dan melatih ).
Pengaruh timbal balik antara keluarga, sekolah, masyarakat terhadap perkembangan peserta didik antara lain:
1.      Akibat adanya interaksi antara sekolah dan masyarakat, maka mata pelajaran yang fungsional bagi kehidupan diperdalam.
2.      Lingkungan pendidikan keluarga, sekolah, dan masyarakat bersama-sama menanamkan etos kerja pada peserta didik.
3.      Ketiga lingkungan pendidikan menanamkan jiwa keagamaan pada peserta didik.
4.      Peningkatan semangat belajar pada peserta didik. Ketiga lingkungan pendidikan makin menyadari akan pentingnya mencerdaskan kehidupan bangsa.

IV.             KESIMPULAN
Tripusat pendidikan adalah setiap pribadi manusia akan selalu berada dan mengalami perkembangan dalam tiga lembaga pendidikan, yaitu : keluarga, sekolah, dan masyarakat. Pendidikan informal ialah yang diperoleh sesorang dari pengalaman sehari-hari dengan sadar atau tidak sadar, sejak seseorang lahir sampai mati, didalam keluarga dalam pekerjaan atau pergaulan sehari-hari. Pendidikan formal adalah pendidikan yang berstruktur, mempunyai jenjang/tingkat, dalam periode waktu  tertentu, berlangsung dari sekolah dasar sampai universitas dan tercakup di samping studi akademis umum, juga berbagai program khusus dan lembaga untuk latihan teknis dan profesional. Pendidikan non formal ialah pendidikan yang teratur dengan sadar dilakukan tetapi tidak terlalu mengikuti peraturan-peraturan yang tetap dan kuat.

V.                PENUTUP
Demikian makalah yang penulis buat. Penulis menyadari dalam pembuatan makalah ini terdapat banyak kesalahan. Maka dari itu, kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan untuk perbaikan tugas selanjutnya. Semoga makalah ini dapar bermanfaat bagi kita semua, Amin.


[1]Drs. A. Muri Yusuf, Pengantar Ilmu Pendidikan, ( Jakarta : Ghalia Indonesia ), 1996, hal. 9-10
[2] Drs. Kunaryo Hadikusumo, Pengantar Pendidikan, (Semarang: IKIP Semarang Press), 1996, hal. 74
[3]Dr. Umar Tirtarahardja, Pengantar pendidikan, ( Jakarta : PT. Asdi Mahasatya ), 2005, hal. 163-164
[4] Moh Padil, Triyo Supriyatno, Sosiologi Pendidikan , ( Malang : UIN-Maliki Press ), 2010, hal. 114
[5]Moh Padil, Triyo Supriyatno, Sosiologi Pendidikan , hal. 114-115
[6] Drs. H.M. Hafi Anshari, Pengantar Ilmu Pendidikan, (Surabaya: Usaha Nasional), 1983, hal. 99-100
[7] Drs. Kunaryo Hadikusumo, Pengantar Pendidikan, hal. 76
[8] Drs. H.M. Hafi Anshari, Pengantar Ilmu Pendidikan, hal. 104
[9] Drs. A. Muri Yusuf, Pengantar Ilmu Pendidikan, hal. 62
[10] Drs. H.M. Hafi Anshari, Pengantar Ilmu Pendidikan, hal. 105
[11] Drs. A. Muri Yusuf, Pengantar Ilmu Pendidikan, hal. 63
[12]Dr. Hj. Binti Maunah, M. Pd. I. Landasan Pendidikan,( Yogyakarta: Penerbit Teras ), 2009, hal. 178
[13]Dr. Umar Tirtarahardja, Pengantar pendidikan, hal. 168-170
[14] Moh Padil, Triyo Supriyatno, Sosiologi Pendidikan, hal. 117
[15] Drs. H. Fuad Ihsan, Dasar-Dasar Kependidikan: Komponen MDK, (Jakarta: Rineka cipta), 2010, hal. 58
[16]Drs. A. Muri Yusuf, Pengantar Ilmu Pendidikan, hal. 26-27
[17]Dr. Hj. Binti Maunah, M. Pd. I. Landasan Pendidikan, hal. 179
[18]Drs. A. Muri Yusuf, Pengantar Ilmu Pendidikan, hal. 33-34
[19] Drs. A. Muri Yusuf, Pengantar Ilmu Pendidikan, hal. 34-36
[20] Drs. Kunaryo Hadikusumo, Pengantar Pendidikan, hal.78

Tidak ada komentar:

Posting Komentar