I.
PENDAHULUAN
Pertumbuhan dan perkembangan kehidupan manusia sejalan
dengan perubahan yang terjadi dalam masyarakat. Tuntutan akan lingkungan yang
berbeda, penyebab individu bertingkah lebih efektif dan efisien, mencari dan
menemukan lingkungan baru yang lebih baik. Perkembangan ekonomi, sosial dan
budaya antara sekelompok manusia di dalam daerah,di kota ataupun di desa
bervariasi menuntut latar belakang penduduknya.untuk dapat meningkatkan
kemajuan dan perbaikan dalam suatu masyarakat, di perlukan teknologi.
Untuk dapat memahami dan menggunakan teknologi, di butuhkan
pendidikan, baik formal, nonformal dan informal. Pendidikan dalam lingkungan
keluarga di benahi, pendidikan formal di tingkatkan, dan pendidikan non formal di kembangkan. Tiga jalur
pendidikan tersebut akan mampu mengembangkan segala potensi yang ada dalam
masyarakat sesuai dengan keberadaan masing-masing. Melalui pendidikan kita
meningkatkan pengetahuan, keterampilan nilai dan sikap tiap-tiap individu.
Manusia terdidik adalah pemegang nilai-nilai dan norma-norma kehidupan.[1]
II.
RUMUSAN MASALAH
A.
Pengertian
dan Fungsi Lingkungan Pendidikan
B.
Definisi Tri
Pusat Pendidikan
C.
Pendidikan Informal, Formal, dan Non Formal
D.
Peran
Keluarga, Masyarakat, dan Sekolah
E. Hubungan Timbal Balik antara Keluarga,
Masyarakat, dan Sekolah
III.
PEMBAHASAN
A.
Pengertian dan Fungsi Lingkungan Pendidikan
Lingkungan
pendidikan yaitu segala kondisi dan pengaruh dari luar terhadap kegiatan
pendidikan.[2]Manusia memiliki sejumlah kemampuan yang dapat di
kembangkan melalui pengalaman. Pengalaman itu terjadi karena interaksi manusia
dengan lingkunganya, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial manusia
secara efisien dan efektif itulah yang di sebut pendidikan. Dan latar tempat
berlangsungnya pendidikan itu di sebut lingkungan pendidikan, khususnya pada tiga
lingkungan utama pendidikan yakni keluarga, sekolah, dan masyarakat. Meskipun
lingkungan tidak bertanggung jawab atas kedewasaan anak didk, namun merupakan
faktor yang sangat menentukan yaitu pengaruhnya sangat besar bagi peserta
didik, sebab bagaimanapun anak tinggal dalam suatu lingkungan pasti akan
mempengaruhi anak tersebut.
Secara umum fungsi lingkungan pendidikan
adalah membantu peserta didik dalam berinteraksi dengan berbagai lingkungan
sekitarnya ( fisik, sosial, budaya ), utamanya berbagai sumber daya pendidikan
yang tersedia,agar dapat dicapai tujuan pendidikan yang optimal. Penataan
lingkungan pendidikan itu terutama di maksudkan agar proses pendidikan dapat
berkembang efisien dan efektif. Seperti di ketahui, proses pertumbuhan dan perkembangan
manusia sebagai akibat interaksi dengan lingkungan akan berlangsung secara
alamiah dengan konsekuensi bahwa tumbuh kembang itu mungkin berlangsung lambat
dan menyimpang dari tujuan pendidikan.Pelaksanaan pendidikan dilakukan melalui
tiga kegiatan : membimbing, terutama berkaitan dengan pemantapan jati diri dan
pribadi dari segi-segi periaku umum ( aspek kebudayaan ), mengajar, terutama
berkaitan dengan penguasaan ilmu pengetahuan, melatih, terutama berkaitan
dengan keterampilan dan kemahiran ( aspek teknologi ).[3]
B.
Definisi Tri Pusat Pendidikan
Istilah tripusat pendidikan berasal dari istilah yang dipakai oleh Ki Hajar
Dewantoro, dalam memberdayakan semua unsur masyarakat untuk membangun
pendidikan. Adapun yang dimaksud Tripusat pendidikan adalah setiap pribadi
manusia akan selalu berada dan mengalami perkembangan dalam tiga lembaga pendidikan,
yaitu : keluarga, sekolah, dan masyarakat. Ketiga lembaga ini secara bertahap
dan mengemban tanggung jawab pendidikan bagi generasi muda. Kemudian tripusat pendidikan
ini dijadikan prinsip pendidikan, bahwa pendidikan berlangsung seumur hidup dan
di laksanakan di dalam lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat. Orientasi
kelembagaan tripusat pendidikan ini bersifat alamiah sesuai dengan kenyataan
dalam tata kebudayaan manusia.[4]
Tata kehidupan manusia secara mendasar dan memyeluruh di jadikan dasar
untuk dapat memahami tata kehidupam pendidikan. Secara sederhana, kita
memerlukan realitas kehidupan bahwa manusia dilahirkan dalam lingkungan keluarga. Keluarga sebagai kelompok kecil masyarakat sagat
di pegaruhi oleh tingkah laku masyarakat, hubungan timbal balik antara keluarga
dan masyarakat sebagai sarana terjadinya proses pendidikan.
Dari awalnya,
dalam tata pendidikan masyarakat tradisional
hanya ada dua lembaga pendidikan, yaitu lembaga pendidikan keluarga dan
lembaga pendidikan masyarakat. Kedua lembaga pendidikan tersebut di adakan
sesuai dengan kebutuhan masyarakat pada saat tertentu. Keberadaan keluarga
sebagai lingkungan yang pertama dan utama bagi perkembangan anak, di anggap
sebagai kehidupan yang azasi dan alamiah yang pasti dialami oleh kehidupan
seorang manusia. Setiap keluarga pasti melaksanakan interaksi dengan keluarga yang
lain, sehingga terbentuk sebuahh masyarakat, yakni lingkungan sosial yang ada
di sekitar keluarga itu, seperti kampung, desa, kampung, marga tau pulau.
Lembaga pendidikan keluarga dan lembaga pendidikan masyarakat berlangsung
alamiah dari waktu ke waktu selalu mengalami perkembangan dan perubahan seiring
dengan kemajuan kebudayaan masyarakat.[5]
C.
Pendidikan Informal, Formal, dan Non Formal
Pendidikan Informal
Pendidikan informal ialah yang diperoleh sesorang dari pengalaman
sehari-hari dengan sadar atau tidak sadar, sejak seseorang lahir sampai mati,
didalam keluarga dalam pekerjaan atau pergaulan sehari-hari. Sebagaimana telah
diutarakan bahwa keluarga merupakan lingkungan yang pertama kali ditemui oleh
anak dalam kehidupannya dan juga merupakan lingkungan utama. Pendidikan
informal dimaksudkan timbulnya pengaruh-pengaruh dari orang dewasa kepada anak
sebagai akibat komunikasi yang erat dalam pergaulan sehari-hari.[6]
Dasar-dasar tanggung jawab keluarga terhadap anak diuraikan oleh Noor Syam,
antara lain:
1.
Dorongan/
motivasi cinta kasih sayang yang menumbuhkan sikap rela mengabdikan hidupnya
untuk sang anak.
2.
Dorongan/
motivasi kewajiban moral sebagai konsekuensi kedudukan orang tua terhadap
keturunannya, meliputi nilai religius yang dijiwai Ketuhanan Yang maha Esa,
serta menjaga martabat dan kehormatan keluarga.
3.
Tanggung jawab
sosial berdasarkan kesadaran bahwa keluarga sebagai anggota masyarakat, bangsa,
negara, bukan kemanusiaan.[7]
Pelaksanaan
pendidikan informal dalam keluarga harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
a.
Kemampuan dasar
yang dibawa anak sejak lahir.
b.
Hubungan
kodrati orang tua dan anak yang sangat erat.
c.
Keadaan anak
secara fisis maupun psikis.
d.
Ketidakberdayaan
anak dan ketergantungan anak.[8]
Pendidikan Formal
Menurut Philip H. Coombs pendidikan formal adalah pendidikan yang
berstruktur, mempunyai jenjang/tingkat, dalam periode waktu tertentu, berlangsung dari sekolah dasar
sampai universitas dan tercakup di samping studi akademis umum, juga berbagai
program khusus dan lembaga untuk latihan teknis dan profesional. Melalui
pendidikan formal, anak didik dapat dikembangkan pengetahuan, keterampilan dan
sikap, serta nilai-nilai.[9]
Pendidikan formal di sekolah merupakan lanjutan atau pengembangan
pendidikan yang telah diberikan oleh orang tua terhadpa anak-anaknya dalam
keluarga, dimana hal tersebut dikarenakan beberapa faktor antara lain[10]:
1.
Keterbatasan
pengetahuan orang tua
2.
Kesempatan
waktu
3.
Perkembangan
anak
4.
Lingkungan
Kehidupan di
sekolah merupakan jembatan bagi anak, yang menghubungkan kehidupan dalam
keluarga dengan kehidupan dalam masyarakat kelak.
Pendidikan Non Formal
Pendidikan non formal ialah pendidikan yang teratur dengan sadar dilakukan
tetapi tidak terlalu mengikuti peraturan-peraturan yang tetap dan kuat. Pendidikan
non formal merupakan pendidikan di luar sekolah yang secara potensial dapat
membantu, dan menggantikan pendidikan formal dalam aspek-aspek tertentu seperti
pendidikan dasar atau ketrampilan kejuruan khusus.
Keuntungan dari
pendidikan non formal adalah sebagai berikut:
1.
Biaya yang
digunakan untuk suatu program cukup rendah.
2.
Waktu yang
dipakai tidak lama dan dapat diselesaikan dengan situasi dan kondisi
partisipan.
3.
Program yang
dilaksanakan dapat membantu dan memenuhi kebutuhan langsung dari partisipan. [11]
D.
Peran Keluarga, Masyarakat, dan Sekolah
Kemajuan masyarakat dan perkembangan iptek yang semakin
cepat serta makin menguatnya era globalisasi akan mempengaruhi peran dan fungsi
ketiga lingkungan pendidikan. Fungsi dan peranan tripusat pendidikan yaitu :
1. Lingkungan keluarga
Keluarga
merupakan lembaga pendidikan tertua yang bersifat informal, yang pertama dan utama yang di
alami oleh anak serta lembaga pendidikan yang bersifat kodratif orang tua
bertanggung jawab memelihara, merawat, melindungi dan mendidik anak agar tumbuh
dan berkembang dengan baik. Secara
sederhana keluarga di artikan sebagai kesatuan hidup bersama yang
pertama di kenal anak, dan karena itu di sebut primary community.
Pendidikan keluarga ini berfungsi :
a.
Sebagai
pengalaman pertama masa kanak-kanak
b.
Menjamin
kehidupan emosional anak
c.
Menanamkan
dasar pendidikan moral
d.
Menanamkan
dasar pendidikan sosial
e.
Meletakkan
dasar-dasar pendidikan agama bagi anak-anak.[12]
Menurut
Ki Hajar Dewantoro, suasana kehidupan keluarga merupakan tempat yang
sebaik-baiknya untuk melakukan pendidikan individual maupun pendidikan sosial. Keluarga
itu tempat pendidikan yang sempurna sifat dan wujudnya untuk melangsungkan ke
arah pembentukan pribadi yang utuh, peranan orang tua sangat berpengaruh dalam
lingungan keluarga sebagai penuntun, pengajar dan pemberi contoh bagi anak-anak
mereka. Lingkungan keluarga sungguh-sungguh merupakan pusat pendidikan yang
peting dan menentukan sikap watak dan budi pekerti.[13]
Keluarga
merupakan institusi sosial yang bersifat universal multifungsional, yaitu
fungsi pengawasan, sosial, pendidikan, keagamaan, perlindungan, dan rekreasi.
Menurut Oqburn, fungsi keluarga adalah kasih sayang, ekonomi, pendidikan,
perlindungan, rekreasi, status keluarga, dan agama. Sedangkan fungsi keluarga
menurut Bierstatt adalah menggantikan keluarga, mengatur dan mengurusi
impuls-impuls seksual, bersifat membantu menggerakkan nilai-nilai kebudayaan,
dan menunjukkan status. Keluarga dan masyarakat tidak lepas dari
pengaruh-pengaruh tesebut, sehingga perubahan apa yang terjadi di masyarakat
berpengaruh pula di keluarga. [14]
Peranan
keluarga terutama dalam penanaman sikap dan nilai hidup, pengembangan bakat dan
minat serta pembinaan bakat dan kepribadian. Sehubungan dengan itu penanaman
nilai-nillai pancasila, nila-nilai keagamaan dimulai dari keluarga.[15]
Reymond.
W. Murray mengemukakan fungsi keluarga sebagai kesatuan turunan dan juga
kebahagiaan bermasyarakat berkewajiban untuk melaksanakan dasar pendidikan,
rasa keagamaan, kemauan, rasa kesukaan kepada keindahan, kecakapan berekonomi,
dan pengetahuan penjagaan diri pada anak.
Peranan
seorang ibu dalam keluarga dalam membimbing anaknya adalah sangat berpengaruh
dalam kepribadian seorang anak. Bahkan sejak seorang ibu mengandung, telah
terjadi hubungan antara anak dengan ibunya. Proses pertumbuhan anak dalam
kandungan sedari dini, telah di tentukan oleh
pelayanan dari ibu yang sedang mengandung. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kemampuan ( intelegensi )
anak masih dapat di pengaruhi oleh bermutu atau tidaknya makanan ibu pada waktu
mengandung, bahkan sampai usia tiga tahun. Dengan demikian jelaslah bahwa
lingkungan keluarga adalah merupakan lingkungan yang pertama dalam membentuk
pribadi anak didik, dalam lingkungan ini anak mulai di bina dan dan di latih
fisik, mental, sosial dan bahasa serta ketrampilanya. Semua pendidikan yang di
terima oleh anak dari keluarganya merupakan pendidikan informal, tidak terbatas
dan melalui tauladan dalam pergaulan keluarga. [16]
2. Lingkungan
Sekolah
Tidak
semua tugas mendidik dapat di laksanakan oleh orang tua dalam keluarga,
terutama dalam hal ilmu pengetahuan dan berbagai macam ketrampilan. Oleh karena
itu di kirimkan anak ke sekolah. Sekolah bertanggung jawab atas pendidikan
anak-anak selama mereka di serahkan kepadanya. Karena itu sebagai sumbangan
sekolah sebagai lembaga pendidikan adalah :
1)
Sekolah
membantu orang tua mengerjakan kebiasaan-kebiasaan yang baik serta menanamkan
budi pekerti yang baik.
2)
Sekolah
memberikan pendidikan untuk kehidupan di dalam masyarakat yang sukar atau tidak
dapat di berikan di rumah.
3)
Sekolah melatih
anak-anak memperoleh kecakapan-kecakapan seperti membaca, menulis,berhitung,
mengambarkan kecerdasan dan pengetahuan.
4)
Di sekolah di
berikan pelajaran etika, keagamaan, estetika, membedakan benar atau salah, dan
sebagainya.[17]
Sekolah sebagai
lingkungan pendidikan bukan mengambil peranan dan fungsi orang tua dalam
mendidik anaknya dalam lingkungan keluarga tetapi sekolah bersama-sama dengan
orang tua membantu mendidik anak-anaknya. Di rumah ia mendapatkan pendidikan
sesuai dengan batas kemampuan lingkungan keluarga. Hal itu di sebabkan karena
kemampuan yang terbatas dan banyaknya tugas dan tanggung jawab lain yang harus
di laksanakan. Apabila kita hubungkan dengan pendidikan dalam lingkungan
keluarga, maka jelaslah bahwa pendidikan
di sekolah itu bukanlah mengambil tanggung jawab orang tua, tetapi melengkapi
dan menyempurnakan pendidikan anak-anak dengan pembangunan bangsa dan negara.
Di dalam keluarga mereka di bina di sekolah mereka di kembangkan dan di
tingkatkan agar lebih mampu melanjutkan kehidupan bangsa.[18]
Dalam lingkungan
pendidikan sekolah ini anak di persiapkan unuk memecahkan berbagai masalah
hidup, seperti mengurus kesehatanya, mencari pekerjaan, bergaul dengan orang
lain yang bukan anggota keluarga, mengurus barang-barang yang menjadi miliknya mempertahankan
diri dari ancaman berbagai ancaman, dan mengenal dirinya sendiri.
c. Lingkungan
Masyarakat
Lingkungan masyarakat
merupakan lingkunngan ketiga dalam proses pembentukan kerpribadian anak-anak
sesuai dengan kepribadiannya. Pada lingkungan keluarga telah di kemukakan
perananya dalam membentuk anak-anak, demikian juga lingkungan sekolah.
Lingkungan masyarakat akan memberikan peranan yang sangat berarti dalam diri
anak, apabila di wujudkan dalam proses dan pola yang tepat. Tidak semua ilmu pengetahuan,
sikap, dan ketrampilan dapat di kembangkan oleh sekolah ataupun dalam keluarga,
karena keterbatasan dana dan kelengkapan lembaga tersebut.
Bentuk dan jenis lingkungan sangat menentukan dan memberi pengaruh terhadap
pembentukan pribadi tiap individu dalam masyarakat, dengan mengingat ketiga
fungsi tersebut. Bagi daerah yang masih terisolir,atau karena komunikasi belum
lancar dan pendidikan melalui sekolah formal belum sampai secara merata pada
daerah itu, pembentukan tiap individu melaui lingkungan pendidikan dimasyarakat
lebih berperan secara aktif di bandingkan dengan daerah lain. Bagi daerah
seperti itu lingkungan pendidikan yang menyediakan ilmu pengetahuan,
ketrampilan, atau performans yang berfungsi dapat menggantikan pendidikan dasar
adalah yang di utamakan.[19]
Masyarakat adalah salah satu lingkungan pendidikan yang berpengaruh besar
terhadap perkembangan pribadi seseorang. Pandangan hidup, cita-cita bangsa, dan
perkembangan ilmu pengetahuan akn mewarnai keadaan masyarakat tersebut. Dengan
pendidikan di lingkungan masyarakat ini mereka diajarkan konsep-konsep dan
sikap tingkah laku dalam pergaulan hidup bersama dalam masyarakat. [20]
d. Hubungan
Timbal Balik antara Keluarga, Masyarakat, dan Sekolah
Perkembangan
peserta didik, seperti juga tumbuh-kembang anak pada umumnya, di pengaruhi oleh
berbagai faktor yakni hereditas, lingkungan proses perkembangan. Khusus untuk
faktor lingkungan peranan tripusat pendidikan itulah yang paling menentukan,
baik secara sendiri-sendiri ataupun secara bersama-sama. Di kaitkan dengan
ketiga proses kegiatan utama pendidikan ( membimbing, mengajar, dan melatih ).
Pengaruh timbal balik antara keluarga, sekolah,
masyarakat terhadap perkembangan peserta didik antara lain:
1.
Akibat adanya
interaksi antara sekolah dan masyarakat, maka mata pelajaran yang fungsional
bagi kehidupan diperdalam.
2.
Lingkungan
pendidikan keluarga, sekolah, dan masyarakat bersama-sama menanamkan etos kerja
pada peserta didik.
3.
Ketiga
lingkungan pendidikan menanamkan jiwa keagamaan pada peserta didik.
4.
Peningkatan
semangat belajar pada peserta didik. Ketiga lingkungan pendidikan makin
menyadari akan pentingnya mencerdaskan kehidupan bangsa.
IV.
KESIMPULAN
Tripusat pendidikan adalah setiap
pribadi manusia akan selalu berada dan mengalami perkembangan dalam tiga
lembaga pendidikan, yaitu : keluarga, sekolah, dan masyarakat. Pendidikan
informal ialah yang diperoleh sesorang dari pengalaman sehari-hari dengan sadar
atau tidak sadar, sejak seseorang lahir sampai mati, didalam keluarga dalam
pekerjaan atau pergaulan sehari-hari. Pendidikan formal adalah pendidikan yang
berstruktur, mempunyai jenjang/tingkat, dalam periode waktu tertentu, berlangsung dari sekolah dasar
sampai universitas dan tercakup di samping studi akademis umum, juga berbagai
program khusus dan lembaga untuk latihan teknis dan profesional. Pendidikan non
formal ialah pendidikan yang teratur dengan sadar dilakukan tetapi tidak
terlalu mengikuti peraturan-peraturan yang tetap dan kuat.
V.
PENUTUP
Demikian makalah yang penulis buat. Penulis menyadari dalam pembuatan makalah
ini terdapat banyak kesalahan. Maka dari itu, kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan untuk
perbaikan tugas selanjutnya. Semoga makalah ini
dapar bermanfaat bagi kita semua, Amin.
[1]Drs. A. Muri Yusuf, Pengantar Ilmu Pendidikan, ( Jakarta : Ghalia Indonesia ), 1996,
hal. 9-10
[3]Dr. Umar Tirtarahardja, Pengantar pendidikan, ( Jakarta : PT. Asdi Mahasatya ), 2005, hal.
163-164
[4] Moh Padil, Triyo
Supriyatno, Sosiologi Pendidikan , (
Malang : UIN-Maliki Press ), 2010, hal. 114
[5]Moh Padil, Triyo Supriyatno, Sosiologi Pendidikan , hal. 114-115
[6] Drs. H.M. Hafi Anshari, Pengantar Ilmu Pendidikan, (Surabaya:
Usaha Nasional), 1983, hal. 99-100
[12]Dr. Hj. Binti Maunah, M. Pd. I. Landasan Pendidikan,( Yogyakarta:
Penerbit Teras ), 2009, hal. 178
[13]Dr. Umar Tirtarahardja, Pengantar pendidikan, hal. 168-170
[14] Moh Padil, Triyo Supriyatno, Sosiologi Pendidikan, hal. 117
[15] Drs. H. Fuad Ihsan, Dasar-Dasar Kependidikan: Komponen MDK, (Jakarta:
Rineka cipta), 2010, hal. 58
[16]Drs. A. Muri Yusuf, Pengantar Ilmu Pendidikan, hal. 26-27
[17]Dr. Hj. Binti Maunah, M. Pd. I. Landasan Pendidikan, hal. 179
[18]Drs. A. Muri Yusuf, Pengantar Ilmu Pendidikan, hal. 33-34
Tidak ada komentar:
Posting Komentar